Jejak Kehidupan Insan

September 13, 2007

Meraih Rahmat Di Bulan Ramadhan

Diarsipkan di bawah: Ramadhan — sbsan @ 5:53 am

Rasulullah saw. Bersabda (yang artinya), “Dialah (Ramadhan) bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan, dan pada sepertiga akhirnya merdeka dari api neraka”. (HR Ibnu Khuzaimah dari Salman al-Farisi, seperti disebutkan dalam kitab Hayat ash-Shahabah).


Syariah adalah Rahmat

Visi dan misi diturunkannya Dinul Islam sebagai risalah kehidupan hakikatnya adalah untuk memberikan rahmat kepada seluruh alam. Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Tidaklah Kami mengutusmu melainkan agar menjadi rahmat bagi semesta alam. (QS al-Anbiya [21]: 107)

Ibnu Katsir, ketika memaknai ayat tersebut menyatakan, bahwa Nabi Muhammad saw. dengan risalahnya merupakan rahmat. Siapa saja yang menerima risalah yang merupakan rahmat tersebut maka ia akan bahagia di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, siapa saja yang menolaknya niscaya akan nestapa di dunia dan akhirat. Rasulullah saw. bersabda:

اِنِّي لَمْ اُبْعَثْ لَعَّنًا وَ اِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai laknat. Aku hanya diutus sebagai rahmat. (HR Muslim).

Rahmat yang luar biasa ini Allah sebut sebagai bagian kecil dari keseluruhan rahmat-Nya. Rasulullah saw. “mendekatkan” gambaran besarnya karunia dan rahmat Allah dengan sabdanya, ”Allah SWT membagi rahmat menjadi seratus bagian. Dia menyimpan di sisi-Nya 99 bagian dan diturunkan-Nya ke bumi ini 1 bagian. Satu bagian inilah yang dibagikan kepada seluruh makhluk. (Begitu meratanya sampai satu bagian yang dibagikan itu diperoleh pula oleh) seekor binatang yang mengangkat kakinya karena dorongan kasih saying, karena khawatir menginjak anaknya.” (HR Muslim).

Subhânallah! Demikian indahnya Rasul saw. menggambarkan rahmat dan kasih-sayang Allah SWT.

Bagi kita yang mengimani al-Quran dan as-Sunnah, syariah yang digali dari keduanya untuk memecahkan berbagai sendi kehidupan adalah wujud nyata dari rahmat Allah tersebut. Risalah Rasul yang memberikan petunjuk dalam kehidupan ekonomi dan pengaturan berbagai aset kehidupan adalah wujud nyata rahmat Allah agar kehidupan perekonomian berjalan dengan adil dan rakyat menjadi sejahtera. Petunjuk al-Quran dalam urusan pengelolaan sumberdaya alam adalah arti penting rahmat Allah agar kekayaan tersebut dapat dinikmati oleh rakyat banyak dan tidak dieksploitasi oleh segelintir manusia, apalagi oleh negara kafir penjajah. Tuntunan Allah dan Rasul-Nya dalam kehidupan sosial, pelayanan pendidikan dan kesehatan, tatacara dalam berpolitik (pengaturan urusan umat), sistem pemerintahan dan rangkaian hukum syariah lainnya—jika diterapkan—akan mewujudkan rahmat secara real.


Meraih Rahmat Allah dengan Takwa

Upaya meraih rahmat Allah adalah dengan takwa kepada-Nya. Ramadhan merupakan sarana untuk mengokohkan takwa itu. Allah SWT berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. (QS al-Baqarah [2]: 183).

Ada dua bentuk ketakwaan yang harus diwujudkan dalam momentum Ramadhan ini. Pertama: ketakwaan personal. Banyak sekali nash-nash yang menjelaskan tentang hal ini, di antaranya sabda Rasulullah saw.:

إِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَ اَتْبِعِ السَّيِئََةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُوْهَا وَ خَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertakwalah kamu di mana saja kamu berada. Ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu menghapuskan keburukan. Pergaulilah manusia dengan akhlak yang bagus. (HR Turmudzi).

Sifat takwa itu tercermin dalam kesediaan seorang Muslim untuk tunduk dan patuh pada hukum Allah. Kesediaan kita untuk tunduk dan patuh pada seluruh hukum syariah Islam inilah realisasi dari ketakwaan dan kesalihan personal kita. Secara personal, syariah yang pelaksanaannya bisa dilakukan oleh individu dan kelompok—seperti shalat, puasa, zakat, memakai jilbab, berakhlak mulia, berkeluarga secara islami; atau bermuamalah seperti jual-beli, sewa-menyewa secara syar’i dan sebagainya—bisa dilaksanakan saat ini juga. Begitu ada kemauan, semua itu bisa dilakukan.

Selama bulan Ramadhan ini, kita secara ruhiah memang dilatih untuk meningkatkan ketundukan atau ketaatan pada syariah. Di luar Ramadhan kita boleh makan dan minum atau berhubungan suami-istri siang hari. Namun, dalam bulan Ramadhan semua itu dilarang, dan ternyata kita bisa. Artinya, dengan kemauan yang besar, sesungguhnya kita bisa melaksanakan hukum Allah atau syariah Islam itu. Jika yang halal saja bisa kita tinggalkan, apalagi yang haram. Jika yang sunnah seperti shalat tarawih, sedekah dan sebagainya saja bisa kita lakukan, apalagi yang wajib. Karena itu, bulan Ramadhan ini jangan sampai berlalu tanpa makna. Kita harus mengisinya dengan melaksanakan amal-amal salih yang berbuah pahala dan menjauhkan amal-amal salah yang berbuah dosa dan siksa.

Kedua, ketakwaan secara sosial atau dalam konteks negara. Allah SWT berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Seandainya saja penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, Kami pasti melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Namun, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu sehingga Kami pun menyiksa mereka akibat perbuatannya itu. (QS al-A’raf [7]: 96).

Ayat ini berbicara tentang ketakwaan penduduk negeri secara kolektif, bukan secara personal. Karena itu, ayat ini menggambarkan masyarakat/negara pun harus menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya; harus menjadi masyarakat dan negara yang ‘bertakwa’. Dengan kata lain, masyarakat dan negara harus menerapkan dan menegakkan syariah Islam.

Terkait peradilan/persanksian, misalnya, ada hukum qishâsh, potong tangan bagi pencuri, cambuk seratus kali bagi pezina ghayru muhshân, rajam bagi pezina muhshân, cambuk bagi peminum khamr, hukuman bagi mafia pembakar pasar, dsb.

Dalam ekonomi ada hukum tentang kepemilikan, pengelolaan kekayaan milik umum, penghapusan riba dari semua transaksi, pemenuhan kebutuhan pokok rakyat, pemberian alternatif tempat tinggal dan tidak sembarang menggusur, tidak boleh menjual pulau kepada pihak asing dengan alas aninvestasi pariwisata, dsb.

Dalam Politik Luar Negeri ada hukum tentang dakwah ke luar negeri dan jihad, tidak menyerahkan kedaulatan dengan tunduk pada perjanjian yang merugikan seperti kasus DCA, dsb. Dalam hal kewarganegaraan, ada hukum tentang status kafir dzimmi, musta’min, mu’âhad, dll.

Ringkasnya, bulan Ramadhan adalah bulan untuk menggapai rahmat dengan cara mewujudkan ketakwaan personal maupun kolektif/sosial atau dalam konteks negara. Karena itu, pada bulan ini sejatinya terjadi peningkatan keberpihakan umat Islam pada penegakkan syariah sekaligus upaya memperjuangkan penerapannya. Bulan Ramadhan hendaknya menjadi momentum untuk semakin membersihkan pikiran dan mensucikan hati hingga memiliki daya pembeda antara haq dan yang batil sekaligus mengikuti kebenaran Islam dan menjauhi ajakan setan, baik yang berwujud jin maupun manusia.

Karena itu, umat Islam tidak akan mengikuti ajakan Presiden AS, George W. Bush, yang secara terbuka mengajak para pemimpin negeri-negeri Muslim untuk memerangi upaya penegakan Islam melalui penerapan syariah dan Khilafah. “We should open new chapter in the fight againts enemies of freedom, againts who in the beginning of XXI century call Muslims to restore caliphate and to spread sharia (Kita harus membuka bab baru perang melawan musuh kebebasan, melawan orang-orang yang di abad ke 21 menyerukan kaum Muslim untuk mengembalikan Khilafah dan menyebarluaskan syariah),” ungkapnya seperti dikutip dalam www.demaz.org.


Wahai Kaum Muslim:

Setiap tahun Ramadhan menyapa kita. Lalu adakah peningkatan kualitas keimanan dan ketakwaan dalam diri kita? Adakah tambahan kerinduan dan upaya untuk menggapai rahmat Allah Yang Maha Penyayang? Makin membuncahkah iman kita dari tahun ke tahun atau biasa-biasa saja? Kita shaum pada bulan yang satu, berhari raya pada saat yang satu, berhaji pada bulan yang juga satu; Tuhan kita satu, al-Quran kita satu, teladan kita Nabi Muhammad saw. satu, dan kiblat kita satu. Lalu adakah kerinduan dalam diri kita untuk menjadi umat yang satu dan hidup dalam ketakwaan yang makin membahana dalam lubuk hati kita?

Marilah kita reguk keberkahan Ramadhan dengan ibadah dan perjuangan untuk menegakkan Islam secara kâffah. []

Komentar: 

Jadikan Ramadhan sebagai momentum penegakkan syariah dan khilafah.

source : bulletin Al Islam

Ramadhan Bersama Rasulullah SAW dan Para Shahabat

Diarsipkan di bawah: Ramadhan — sbsan @ 5:44 am

Menjelang bulan Ramadhan, Rasulullah saw. senantiasa mengumpulkan para Sahabatnya. Rasul kemudian menyampaikan kepada mereka hikmah dan keutamaan Ramadhan dan puasa. Ini dilakukan oleh Rasul dalam rangka mengingatkan kaum Muslim akan datangnya bulan penuh berkah. Beliau memompa semangat para Sahabat agar mereka bergembira dan menyongsong sepenuh hati kedatangan bulan Ramadhan. Beliau memberikan pembelajaran dan pemahaman ilmu serta menyiapkan mental para Sahabatnya. Di antaranya:

1. Memahamkan hakikat, rukun dan syarat shaum.

Pertama: Mengetahui dan menjaga rambu-rambu shaum Ramadhan. Rasulullah saw. Bersabda (yang artinya): Siapa saja yang menunaikan shaum Ramadhan, kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya. (HR Ibnu Hibban dan al-Baihaqi).

Kedua: Tidak meninggalkan shaum, walau sehari, dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariah Islam. Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ وَلاَ مَرَضٍ لَمْ يَقْضِ عَنْهُ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ وَإِنْ صَامَهُ

Siapa saja tidak menunaikan shaum Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshah atau sakit, hal itu merupakan dosa besar yang tidak bisa ditebus, bahkan seandainya ia menunaikan shaum sepanjang masa. (HR at-Tirmidzi).

Ketiga: Menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai shaum. Rasulullah saw. pernah bersabda (yang artinya): Bukanlah shaum itu sekadar meninggalkan makan dan minum, melainkan meninggalkan pekerti sia-sia dan kata-kata bohong. (HR Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah).

Keempat: Bersungguh-sungguh melakukan shaum dengan menepati aturan-aturannya. Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Siapa saja yang menunaikan shaum Ramadhan dengan penuh iman dan kesungguhan akan diampuni dosa-dosanya yang pernah dia lakukan. (HR al-Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

2. Tilâwah al-Quran.

Ramadhan adalah bulan turunnya al-Quran. Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan; bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia serta berbagai penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). (QS al-Baqarah [2]: 185).

Pada bulan ini al-Quran benar-benar turun ke bumi untuk menjadi pedoman manusia dalam menjalankan kehidupannya di dunia. Rasulullah saw. sendiri, ketika memasuki bulan ini, bertadarus al-Quran bersama Malaikat Jibril as. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hal ini tentu saja dilakukan dengan tetap memperhatikan tajwid dan esensi dasar diturunkannya al-Quran untuk di-tadabburi, dipahami, dan diamalkan. Allah SWT berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا ءَايَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu dengan penuh berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran. (QSa Shad [38]: 29).

Pada bulan ini umat Islam harus benar-benar berinteraksi dengan al-Quran untuk meraih keberkahan hidup dan meniti jenjang menuju umat terbaik dengan petunjuk al-Quran. Berinteraksi dengan al-Quran maknanya adalah hidup dalam naungan al-Quran. Caranya adalah dengan tilâwah (membaca), tadabbur (memahami), hifzh (menghapalkan), tanfîdzh (mengamalkan), ta‘lîm (mengajarkan) dan tahkîm (menjadikannya sebagai pedoman).

3. Memberi makan orang yang berbuka puasa, bersedekah, dll.

Salah satu amaliah Ramadhan Rasulullah ialah memberikan ifthâr (santapan berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa. Rasul saw. Bersabda:

مَنْ فطّرَ صائِماً كانَ لهُ مثْلُ أجرِهِ غَيْرَ أنّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أجْرِ الصّائِمِ شيئاً

Siapa saja yang memberi makan orang-orang yang berbuka puasa, ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun. (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Memberi makan dan sedekah selama bulan Ramadhan ini bukan hanya untuk keperluan ifthâr, melainkan juga untuk segala kebajikan. Rasulullah saw. dikenal dermawan dan peduli terhadap nasib umat. Pada bulan Ramadhan, kedermawanan dan kepedulian Beliau lebih menonjol lagi. Kebaikan Rasulullah saw. Pada bulan Ramadhan melebihi angin yang berhembus karena begitu cepat dan banyaknya. Dalam sebuah hadis disebutkan:

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةُ رَمَضَانَ

Sebaik-baiknya sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan (HR al-Baihaqi, al-Khatib dan at-Tirmidzi).

Kalau kita renungkan, aktivitas menyediakan hidangan ini akan melahirkan rasa saling mencintai antara yang memberi dan yang diberi. Bukankah rasa saling mencintai sesama Muslim merupakan salah satu syarat masuk surga? Rasulullah saw. bersabda:

لاََ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاََ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا

Kalian tidak akan masuk surga sebelum kalian beriman dan kalian tidak akan beriman sebelum kalian saling mencintai. (HR Muslim).

4. Memperbanyak zikir, doa dan istigfar.

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Hari-hari dan malam-malamnya merupakan waktu utama/mulia. Alangkah ruginya jika kesempatan ini tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, terutama dengan memperbanyak zikir dan doa. Ada beberapa waktu mustajab yang bisa dijumpai pada bulan Ramadhan, di antaranya: Ketika berbuka, orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak; sepertiga malam terakhir sewaktu Allah SWT turun. Dalam sebuah hadis qudsi Allah SWT berfirman sebagaimana hadits Nabi (yang artinya): Adakah hamba-Ku yang meminta, niscaya Aku memberinya. Adakah hamba-Ku yang memohon ampunan, niscaya Aku mengampuninya. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Sebaiknya, pada sepertiga malam terakhir ini kita memperbanyak istighfar:

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Selalu memohon ampunan pada waktu sahur. (QS Azd-Dzariyaat [51]: 18).

Kita juga dianjurkan untuk berzikir, berdoa dan beristigfar di masjid, yaitu setelah menunaikan shalat Shubuh sampai terbit matahari (yang artinya): Siapa saja yang menunaikan shalat Fajar berjamaah di masjid, kemudian tetap duduk berzikir hingga terbit matahari, lalu shalat dua rakaat, seakan-akan ia mendapat pahala haji dan umrah dengan sempurna, sempurna dan sempurna. (HR at-Tirmidzi).

5. Itikaf.

Di antara amaliah sunnah yang selalu dilakukan oleh Rasulullah saw. dalam bulan Ramadhan ialah itikaf, yakni berdiam diri di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Ini Beliau lakukan pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan dan terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Ibadah yang demikian penting ini sering dianggap berat sehingga ditinggalkan oleh kebanyakan orang Islam. Tidak aneh jika Imam az-Zuhri berkomentar, “Aneh benar keadaan orang Islam. Mereka meninggalkan ibadah itikaf, padahal Rasulullah saw. tidak pernah meninggalkannya sejak Beliau datang ke Madinah hingga Beliau wafat disana.”

6. Memperhatikan aktivitas sosial dan jihad.

Amalan Ramadhan Rasul tidak hanya terbatas pada aktivitas ibadah semata. Aktivitas dakwah dan sosial pun tak luput dari perhatian Beliau. Dalam sembilan kali Ramadhan yang pernah Beliau alami, misalnya, Beliau justru melakukan ekspedisi dan pengiriman pasukan. Di antaranya: Perang Badar (tahun 2 H), Makkah (tahun 8 H), dan Tabuk (tahun 9 H); mengirimkan 6 askariyah (pasukan jihad yang tidak secara langsung Beliau pimpin); meruntuhkan berhala-berhala Arab seperti Lata, Manat dan Suwa’; meruntuhkan masjid dhirar, dll.

Selain itu, sebagai kepala negara, sebelum bulan Ramadhan tiba (bulan Sya’ban), Rasul saw. mengingatkan rakyatnya untuk mempersiapkan diri dengan baik. Segala aktivitas yang berkaitan dengan munculnya hal-hal yang dapat membatalkan atau bahkan mengurangi pahala berpuasa telah jauh-jauh hari dicegah dan dilarang. Adapun aktivitas yang haram seperti tempat minum-minuman keras, judi, pelacuran, dll bukan hanya dilarang sewaktu Ramadhan saja, tetapi memang diharamkan sejak dari awal. Bukan seperti saat ini. Setiap Ramadhan disibukkan dengan ‘himbauan’ untuk tidak membuka tempat-tempat yang disinyalir menjadi tempat maksiat; bukan pada pelarangan. Walhasil, kekhusyukan Ramadhan jadi ternodai. Anehnya, Pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa.


Wahai Kaum Muslim:

Sungguh, bulan Ramadhan adalah bulan mulia. Hendaknya kita mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk meraih gelar muttaqîn. Amalan-amalan Rasul dan para Sahabat di atas semoga bisa menjadi inspirasi bagi persiapan kita untuk menyongsong Ramadhan sehingga bisa lebih baik. Amin. []

source : bulletin Al-Islam

Blog pada WordPress.com.