Jejak Kehidupan Insan

Juli 17, 2008

Impian Seorang Mahasiswi Lansia 87 Tahun

Diarsipkan di bawah: Kisah — sbsan @ 3:33 am

Hari pertama kuliah di kampus, profesor memperkenalkan diri dan menantang kami untuk berkenalan dengan seseorang yang belum kami kenal. Saya berdiri dan melihat sekeliling ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahu saya. Saya menengok dan mendapati seorang wanita tua, kecil, dan berkeriput, memandang dengan wajah yang berseri-seri dengan senyum yang cerah. Ia menyapa,

“Halo anak cakep. Namaku Rose. Aku berusia delapan puluh tujuh. Maukah kamu memelukku? ” Saya tertawa dan dengan antusias menyambutnya,
“Tentu saja boleh!”. Dia pun memberi saya ! pelukan yang sangat erat.

“Mengapa kamu ada di kampus pada usia yang masih begitu muda dan tak berdosa seperti ini?” tanya saya berolok-olok. Dengan bercanda dia menjawab,
“Saya di sini untuk menemukan suami yang kaya, menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan bepergian.”

“Ah yang serius?” pinta saya. Saya sangat ingin tahu apa yang telah memotivasinya untuk mengambil tantangan ini di usianya.
“Saya selalu bermimpi untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan kini saya sedang mengambilnya!” katanya. Setelah jam kuliah usai, kami berjalan menuju kantor senat mahasiswa dan berbagi segelas chocolate milkshake. Kami segera akrab.

Dalam tiga bulan kemudian, setiap hari kami pulang bersama-sama dan bercakap-cakap tiada henti. Saya selalu terpesona mendengarkannya berbagi pengalaman dan kebijaksanaannya. Setelah setahun berlalu, Rose menjadi bintang kampus dan dengan mudah dia berkawan dengan siapapun. Dia suka berdandan dan segera mendapatkan perhatian dari para mahasiswa lain. Dia pandai sekali menghidupkannya suasana.

Pada akhir semester kami mengundang Rose untuk berbicara di acara makan malam klub sepak bola kami. Saya tidak akan pernah lupa apa yang diajarkannya pada kami. Dia diperkenalkan dan naik ke podium. Begitu dia mulai menyampaikan pidato yang telah dipersiapkannya, tiga dari lima kartu pidatonya terjatuh ke lantai. Dengan gugup dan sedikit malu dia bercanda pada mikrofon. Dengan ringan berkata,
“Maafkan saya sangat gugup. Saya sudah tidak minum bir. Tetapi wiski ini membunuh saya. Saya tidak bisa menyusun pidato saya kembali, maka ijinkan saya menyampaikan apa yang saya tahu.”

“Kita tidak pernah berhenti bermain karena kita tua. Kita menjadi tua karena berhenti bermain. Hanya ada rahasia untuk tetap awet muda, tetap menemukan humor setiap hari. Kamu harus mempunyai mimpi. Bila kamu kehilangan mimpi-mimpimu, kamu mati. Ada banyak sekali orang yang berjalan di sekitar kita yang mati namun mereka tak menyadarinya.”

“Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Bila kamu berumur sembilan belas tahun dan berbaring di tempat tidur selama satu tahun penuh, tidak melakukan apa-apa, kamu tetap akan berubah menjadi dua puluh tahun. Bila saya berusia delapan puluh tujuh tahun dan tinggal di tempat tidur selama satu tahun, tidak melakukan apapun, saya tetap akan menjadi delapan puluh delapan tahun. Setiap orang pasti menjadi tua. Itu tidak membutuhkan suatu keahlian atau bakat. Tumbuhlah dewasa dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan.”

“Jangan pernah menyesal. Orang-orang tua seperti kami biasanya bukan menyesali apa yang telah diperbuatnya, tetapi lebih menyesali apa yang tidak kami perbuat. Orang-orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan penyesalan.”

Rose mengakhiri pidatonya dengan bernyanyi “The Rose”. Dia menantang setiap orang untuk mempelajari liriknya dan menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya Rose meraih gelar sarjana yang telah diupayakannya sejak beberapa tahun lalu. Seminggu setelah wisuda, Rose meninggal dunia dengan damai. Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri upacara pemakamannya sebagai penghormatan pada wanita luar biasa yang mengajari kami dengan memberikan teladan bahwa tidak ada yang terlambat untuk apapun yang bisa kau lakukan. Ingatlah, menjadi tua adalah kemestian, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan.

* * * * *
Sediakan waktu untuk berpikir, agar selalu mendapat yang terbaik.
Sediakan waktu untuk bermain, itulah rahasia awet muda.
Sediakan waktu untuk membaca, itulah landasan hikmat & kebijaksanaan.
Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju keharmonisan.
Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa anda ke bintang.
Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa Tuhan.
Sediakan waktu untuk melihat sekeliling anda, hari anda terlalu singkat untuk mementingkan diri sendiri.
Sediakan waktu untuk bekerja, itulah sumber kebahagiaan.
Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik jiwa.
Sediakan waktu untuk Tuhan, sehingga setelah meninggal menemukan tempat terbaik.

September 20, 2007

Mengapa?? Karena Dia Manusia Biasa

Diarsipkan di bawah: Kisah — sbsan @ 7:54 am

Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu? Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi (cakep atau tajir :D manusiawi lah :P ).

Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya. Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran. Proses pernikahan seperti ini sudah lazim. Dia bukanlah akhwat, sama seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.

Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Asli. Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu. Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali waktu itu (sok sibuk sih aslinya). Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal. Beberapa kali saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya. That’s all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol -hanya- berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak pada saya. Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur. “Aku gak bisa tidur.” Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham kondisinya saat ini. “Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur.” “Iya.. ya.” Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik. Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang menerangi kamar saat itu.

Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini saya pendam. “Kenapa kamu memilih dia?” Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari tidurnya sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci meja riasnya. Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya. Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah ngikik geli. “Buka aja.” Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4, saya menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat diatas dideretan paling atas. “Busyet dah nih orang.” Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-katanya.

Begini isi surat itu. …

Kepada YTH Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon kakak buat adik-adik saya Di tempat Assalamu’alaikum Wr Wb Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai. Saya, yang bernama …… menginginkan anda …… untuk menjadi istri saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak. Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan. Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa.

Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik. Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda. Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini. Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin Wassalamu’alaikum Wr Wb

Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini saya membaca surat ‘lamaran’ yang begitu indah. Sederhana, jujur dan realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga. Surat cinta minimalis, saya menyebutnya :D . Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan. “Kenapa kamu memilih dia.” “Karena dia manusia biasa.” Dia menjawab mantap. “Dia sadar bahwa dia manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa. Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari. Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku.” “Maksudnya?” “Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada. Iya kan ? Paling gak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat nanti kita jadi gembel. Hahaha.” “Ssttt.” Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum tidur. Terdiam kita memasang telinga. Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing. “Udah tidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama.” Kita kembali rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih terngiang terus ditelinga saya. “Gik…” “Tidur. Dah malam.” Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah, kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.

Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang mengatur segala kehidupannya. Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahnnya kelak. Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi sebuah ‘proses usaha’. Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan ‘nama’. Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan. Ketika segala yang ‘melekat’ pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan yang utama.

Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk ibadah. Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka semua menjadi indah. Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA. Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah pernikahan. Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah. Lalu, bagaimana dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses. Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan yang suci. Witing tresno jalaran garwo(sigaraning nyowo), kalau diterjemahkan secara bebas. Cinta tumbuh karena suami/istri (belahan jiwa). Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa. Amin.

source :  Ugik Madyo

September 17, 2007

Mutiara dan Kerang Rebus

Diarsipkan di bawah: Kisah — sbsan @ 6:06 am

kerang.jpg

Dua puluh tujuh tahun yang lalu, keluarga kami tinggal di tengah hutan. Kampung terdekat dengan gubuk kami berjarak kurang lebih 2 km. Gubuk itu terbuat dari bambu (gedhek). Agar aman dari serangan binatang buas gubuk kami dibuat panggung. Pohon singkong menge-lilingi gubuk yang hanya mempunyai satu tempat tidur itu. Di depan gubuk nan semilir ada sungai kecil dengan aliran air yang sangat jernih. Di sungai itu, setiap hari saya mandi dengan adik dan kakak. Untuk memenuhi kebutuhan lauk pauk, kami sering memancing ikan di rawa kecil dekat tempat tinggal kami.
Ketika saya sedang memancing ikan di rawa, Ayah saya datang dan bercerita tentang Mutiara dan Kerang Rebus. Ia bertutur, “Ketika kerang belia mencari makan dibukalah penutup badannya, ketika itu pasir masuk ke dalam tubuh kerang belia itu. Sang kerang menangis “Bunda sakit bunda…sakit…ada pasir masuk ke dalam tubuhku”. Sang Ibu menjawab, “sabarlah anakku, jangan kau rasakan sakit itu, bila perlu berikan kebaikan kepada sang pasir yang telah menyakitimu”. Kerang beliapun menangis, namun air matanya ia gunakan untuk membungkus pasir yang masuk ke dalam tubuhnya. Hal ini terus menerus ia lakukan. Rasa sakit itupun secara ber-angsur berkurang bahkan kemudian hi-lang. Ajaibnya, pasir yang membuat sakit tubuh kerang itu justru telah beru-bah menjadi sebutir mutiara. Ketika dijual, kerang yang telah berisi mutiara itu harganya mahal. Sementara kerang yang tak pernah merasakan sakitnya pasir dalam tubuhnya, ia menjadi Kerang Rebus yang dijual murah di pinggir-pinggir jalan.
Setelah menarik napas panjang, Ayah saya melanjutkan, “Kalau kamu tidak pernah mendapat cobaan, maka kamu akan menjadi Kerang Rebus atau orang murahan. Tapi kalau kamu mampu menghadapi cobaan, bahkan mampu memberikan manfaat kepada orang lain ketika kamu sedang mendapat cobaan, maka kamu akan menjadi Mutiara. Anakku…, Kerang Rebus dijual obral di pinggir jalan sementara Mutiara dijual mahal, diletakkan di tempat terhormat dan dikenakan oleh orang-orang yang terhormat. Hidup adalah pilihan wahai anakku…terserah kamu; kamu bisa memilih hendak menjadi Mutiara atau Kerang Rebus.”
Cerita itu sangat mempengaruhi hidup saya. Ketika saya SMP, saya harus mencari biaya sendiri untuk membayar SPP. Selepas subuh, saya harus pergi ke kebun karet untuk mengambil latex dari perkebunan karet yang telah membeku. Pekerjaan itu bisa saya tuntaskan sebelum jam tujuh pagi. Saya dibayar empat ribu perak selama sebulan. Karena pekerjaan itu, aroma tak sedap menempel di tangan saya. Walau dicuci dengan sabun, aroma itu tetap tak hilang. Sesampainya di sekolah, sering tangan itu diludahin teman karena bau yang tak sedap itu. Dalam suasana seperti itu, saya teringat cerita Mutiara dan Kerang Rebus dari ayah saya. Cerita itu telah membuat saya kuat menghadapi cobaan hidup.
Begitu pula ketika saya diterima kuliah di IPB. Saya dan ayah saya datang ke salah seorang yang kaya di kampung kami. “Alhamdulillah pak, Jamil diterima di IPB. Saya tidak punya uang untuk memberangkatkan dia. Tolong saya dipinjami uang tiga ratus ribu rupiah saja.” Begitu ayah saya membuka pembicaraan. Sambil menghisap rokok, tuan rumah itu menjawab, “wah hebat bisa diterima di IPB, tapi kalau nggak punya uang ya nggak usah panjang angan-angan. Sudah tahu miskin, nggak punya uang lha koq mau kuliah. Baru mau berangkat saja sudah pinjam. Bagaimana nanti biaya bulanannya? Apakah bertahun-tahun mau pinjam uang terus?” Baru kali ini saya mendengar penghinaan seperti itu. Tak terasa butiran air mengalir di pipi. Saya biarkan air mata itu mengalir sebab saya merasa itu adalah air mata kerang belia yang sedang membungkus pasir yang masuk ke dalam tubuhnya. Memang, saya telah memutuskan untuk menjadi Mutiara, bukan Kerang Rebus. Bagaimana dengan Anda?

Source : Jammil Az Zaini

September 13, 2007

Indahnya Memaafkan

Diarsipkan di bawah: Kisah — sbsan @ 7:39 am

Jum’at, pukul 12. 00:

Di masjid sebelah kantor, aku menyimak dengan seksama seorang khotib berceramah tentang kesabaran seorang Nabi Ayyub ‘alaihissalam.

Fragmen kehidupan yang mengajarkan bagaimana menyikapi suatu ujian tanpa harus berteriak lantang “Engkau begitu kejam Tuhan, mengapa?”

Karena kesemuanya, didasari kesadaran dan ketundukan, yang membuat kata kesabaran tiada memiliki garis batas hingga “Sang Pembuat Mekanisme Ujian” memisahkan antara ruh dan jasad makhluk-Nya

Jum’at, pukul 12. 15:

Di tengah sholat jum’at, ditingkah suara syahdu imam sholat membacakan beberapa ayat al-qur’an, tiba -tiba cairan hangat memenuhi kelopak mata, entah mengapa…..

Jum’at, pukul 14. 00:

” Mas, minta tolong spanduknya diambilkan jam setengah tiga ya, karena saya sudah balik ke lamongan. Kemarin janji pembuatnya harusnya spanduk itu selesai sebelum jum’at, tolong ya… ” nyaring terdengar suara salah seorang temanku dalam suatu kepanitiaan di ujung telepon

“Ok, Insya Alloh, nanti sepulang kerja saya ambil……” jawabku

Jum’at, pukul 15. 00:

“Maaf Mas, spanduknya belum jadi, nanti ya jam setengah lima, ini lagi banyak pesenan juga mas, gimana?” kata seorang wanita umur tiga puluhan, isteri sang pembuat spanduk

Ini sudah yang kesekian kali pemesanan spanduk, di tempat yang sama, tidak tepat waktu. Aku mengatur nafasku, mencoba untuk tidak marah, betapa pun rencananya sesegera mungkin aku berangkat naik bus ke lamongan.

“Ok mbak, saya tunggu sampai jam setengah lima, tapi tolong diantar ke kantor saya di alamat ini ” pintaku sembari menyodorkan selembar kertas yang berisi alamat kantorku

” Aku maafkan Ya Robb, sekalipun entah ini yang keberapa kali orang itu tidak menepati janjinya ” gumamku mencoba mengalihkan amarahku dengan doa-doa lirihku dalam perjalanan kembali ke kantor

Jum’at, Pukul 17. 00:

Hujan deras mengguyur kota surabaya, aku panik, hingga tiba-tiba HP ku berdering.

” Maaf mas, ini masih dalam perjalan, di sini hujan lebat, tungguin ya……” suara memelas isteri pembuat spanduk mengabarkan keterlambatan-untuk yang kesekian kalinya-mengantarkan spanduk

“Ok, gak papa mbak, saya tunggu….” jawabku mulai merasa iba

Jum’at, setelah sholat maghrib:

Hujan masih begitu deras, memandikan bumi, aku semakin panik, bukan saja karena spanduk yang belum datang, tetapi karena jam segitu angkutan menuju ke terminal Oso Wilangun sudah tidak ada lagi, padahal malam itu aku harus tiba di lamongan untuk menyiapkan talkshow esok hari

Aku membuka mushaf-ku, membaca beberapa ayat suci al-qur’an untuk mengusir kepanikanku, bismillah……

” Ya ALLAH, andaikan aku tadi ikhlas memaafkan kesalahan si pembuat spanduk, maka tolonglah hamba-Mu ini dengan meredakan hujan saat ini juga dan mudahkanlah aku untuk berangkat ke Lamongan… ” kembali do’a aku bumbungkan ke udara yang semakin dingin.

Ajaib, subhanallah...

Hujan seketika itu, reda. Sejenak kemudian sang pembuat spanduk datang, dan sembari memohon maaf, ia menyodorkan spanduk pesanan kami

“Segala puji syukur bagi-Mu Ya Rabb, Tuhan sekalian alam… “

Fffiiuh…pantas ada sahabat di zaman Rasulullah SAW yang disebut oleh beliau sebagai ahli surga sampai tiga kali, ternyata amalannya “hanyalah” setiap malam menjelang tidur ia memaafkan dosa-dosa orang yang mendzoliminya seharian itu

Astaghfirullah... ” kalimat pendek yang menemani perjalanan malam itu ke kampung halamanku……

source : M. Eko Awan Sabila

September 6, 2007

Demi Khilafah

Diarsipkan di bawah: Kisah — sbsan @ 7:45 am

Baginda Nabi Muhammad saw. pernah bersabda (yang artinya): Siapa saja yang mati, sementara di pundaknya tidak ada baiat (kepada Khalifah), maka matinya adalah mati Jahiliah (HR Muslim).

Beliau juga bersabda (yang artinya): Siapa saja yang telah membaiat seorang imam (khalifah), lalu mengulurkan tangan kepadanya dan menyerahkan buah hatinya, hendaklah ia menaatinya semampu dia. Jika ada orang lain yang hendak merebut kekuasaan dari tangan imam/khalifah tersebut, bunuhlah! (HR Abu Dawud dan Muslim).

Dua sabda Baginda Nabi saw. di atas, di samping sejumlah sabda Beliau yang senada, sesungguhnya menggambarkan betapa agungnya kedudukan Khilafah dalam pandangan Islam. Nabi saw. sampai mengaitkan kematian orang yang tidak berusaha membaiat Khalifah/menegakkan Khilafah selama hidupnya dengan sifat jahiliah. Beliau pun sampai memerintahkan umatnya untuk membunuh siapa saja yang ingin merebut kekuasaan Khalifah yang sah.

Demikian penting dan agungnya Khilafah, bahkan kewajiban menegakkannya (membaiat Khalifah) paling layak didahulukan ketika berbenturan dengan kewajiban kifayah lainnya. Para Sahabat ridwânullâh ‘alayhim—yang notabene generasi yang paling paham agama ini, karena merekalah murid langsung Baginda Rasulullah saw.—telah mencontohkan demikian. Saat Baginda Nabi saw. wafat, mereka justru menunda penguburan jenazah Beliau hingga tiga hari dua malam dan lebih mendahulukan upaya pemilihan sekaligus pembaiatan seorang khalifah pengganti Beliau dalam urusan pemerintahan. Setelah Abu Bakar terpilih dan dibaiat sebagai khalifah, barulah mereka menguburkan jenazah Rasulullah saw.

Karena itu, sampai detik ini kita merasa heran menyaksikan seorang tokoh ulama pimpinan sebuah organisasi terbesar di Tanah Air, kemana-mana dengan rajin dan bersemangat justru menolak Khilafah. Padahal dalam sejarah Islam yang amat panjang, upaya-upaya umat dan para khalifah sendiri untuk mempertahankan eksistensi Khilafah demikian keras. Semua itu mereka lakukan karena mereka menyadari, Khilafah adalah ‘simbol’ kekuatan umat sekaligus penentu hidup-matinya umat. Karena itu, demi Khilafah, generasi umat Islam masa lalu rela mengorbankan apa saja.

Semangat ‘demi Khilafah’ itulah yang juga mengaliri darah para syabab/syabah Hizbut Tahrir Indonesia dan para peserta Konferensi Khilafah Islamiyah (KKI) 2007 di Gelora Bung Karno Jakarta bulan Agustus lalu. Demi tegaknya Khilafah, mereka rela mengorbankan apa saja. Waktu, tenaga, pikiran, harta bahkan nyawa pun mereka pertaruhkan.

Di Sumatra Barat, seorang syabah bertutur sebagai berikut:

Awalnya kami tidak menyangka akan bisa hadir di KKI. Masalah dana menjadi kendala. Beberapa bulan sebelum acara, kami sudah berupaya sekuat tenaga untuk bisa mengumpulkan dana dengan menabung, mengurangi jatah sehari-hari, bahkan menjual harta-benda dan perhiasan untuk bisa ikut menyaksikan momen yang luar biasa tersebut. Namun, karena kepastian transportasi yang bisa membawa kami ke Jakarta masih belum juga clear, sementara ada kabar bahwa teman-teman di Jawa yang bisa mengerahkan massa masih sangat kesulitan dana, akhirnya kami memutuskan untuk menginfakkan semua harta dan dana yang sudah kami kumpulkan untuk teman-teman kami di Jawa.

Saat H-1, kami baru mendapat kabar menggembirakan bahwa transportasi bisa didapat, yaitu bis dengan dana sewa Rp 15 juta. Timbul lagi semangat pada diri kami untuk datang ke Jakarta. Itu berarti, kami harus berjuang kembali memperoleh dana untuk berangkat.

Dengan segala keyakinan bahwa Allah yang Maha Memberi, kami berupaya menggalang dana kembali. Dana Rp 15 juta itu, yang hanya untuk ongkos bis, akhirnya terkumpul. Adapun untuk bekal di perjalanan kami berusaha menghemat dana dengan memasak sendiri.

Saat mulai berangkat, bis bergerak meninggalkan kota Padang Jumat (10 Agustus) pukul 10.30 dalam kegembiraan dan harapan besar kami untuk bisa menyaksikan momen besar KKI. Dalam perjalanan menuju Jakarta, Allah memberikan ujian. Bis yang kami sewa mengalami pecah ban dua kali. Di Sumatera Selatan daerah Bangko, jam 10 malam, ban pecah dan tidak ada ban serep! Alhamdulillah, di dekat sana ada bengkel, namun dua ban baru selesai diperbaiki selama 3,5 jam. Karena kami belum shalat magrib dan isya, kami gunakan waktu menunggu itu untuk shalat. Mushala ternyata tidak mudah kami temukan. Ada satu mushala yang kami dapat di tengah hutan. Di tengah lebatnya hutan dan kegelapan malam itu, kami harus mengambil air wudhu dari sungai yang cukup jauh, yang harus kami capai dengan menuruni tanah yang landai. Padahal di rombongan kami ada seorang bayi berumur 3 bulan. Dia pun ikut merasakan perjalanan mencari mushala itu. Subhânallâh!

Bis terhenti lagi Sabtu (11 Agustus) pukul 11.30 karena ban pecah kembali. Kami harus menunggu sekitar dua jam sampai ban itu selesai diperbaiki. Pada saat itu timbul was-was yang besar pada diri kami, apakah bisa kami sampai di Jakarta dan menyaksikan acara besar KKI? Kami sempat drop. Namun, ketika kami sampai di pelabuhan Bakaheuini Minggu (12 Agustus) dini hari, kami bertemu kafilah dari Lampung dengan beberapa bis dan bendera al-Liwa dan ar-Raya berkibar di depan dan belakang. Kami saling meneriakkan dan menyambut takbir. Semangat kami bergelora kembali!

Akhirnya, sampai pula kami di Jakarta. Saat hadir di acara KKI itu, segala keletihan kami hilang seketika. Yang ada tinggal rasa syukur luar biasa dan energi baru untuk berjuang lebih gencar lagi demi menebarkan pemahaman syariah dan Khilafah di tengah-tengah umat.

Di Kalimantan, demi mengikuti KKI, ada kabar sepasang aktivis HTI (suami-istri) sepakat menjual motor kesayangannya agar mendapatkan uang untuk membeli tiket pesawat menuju Jakarta.

Di Maluku Utara, setiap aktivis HTI di sana berusaha mengumpulkan uang, masing-masing Rp sebesar 5 juta! Pasalnya, sebesar itulah biaya transportasi yang harus ditanggung untuk mengikuti acara KKI, karena mereka harus beberapa kali ganti pesawat untuk bisa sampai ke Jakarta.

Di Gresik, Jatim, ada syabah yang sampai rela ngajar Bimbel dari siang hingga jam 10 malam untuk menutupi biaya transportasi KKI yang sebesar Rp 225.000.

Di Bogor, juga di banyak tempat lain, demi mengikuti sekaligus menyukseskan acara KKI, banyak syabab/syabah yang tiba-tiba menjadi sales ‘dadakan’. Barang dagangan berupa nasi uduk, donat, krupuk, deterjen, molto, baju layak pakai, roti, vcd, bros dan barang-barang yang layak jual mereka jual di sekitar masjid, di pinggir jalan ramai hingga ditawarkan dari pintu ke pintu.

Kisah dalam penggalangan massa juga tidak kalah seru. Hampir setiap hari para syabab/syabah menyisir tempat-tempat pertemuan dan majelis-majelis taklim untuk audiensi acara KKI. Berbagai tempat mulai dari perumahan-perumahan elit hingga kampung-kampung ‘elit’ (alias ‘ekonomi sulit’) dijelajahi; pagi, siang, sore bahkan malam hari. Berbagai respon umat ditemui. Ada yang sangat antusias dan langsung memberikan akses pada jaringan pengajian ibu-ibu. Ada yang responnya datar-datar aja. Ada juga yang menolak dan tidak mau ditemui lagi. Bahkan ada yang ikut-ikutan menyebarkan isu-isu tidak benar terhadap HTI dan acara KKI.

Yang semakin membuat kita sangat sedih namun sekaligus bangga, salah seorang syabah pejuang Khilafah di Pasuruan, Ukhti Masmu’ah, harus berpulang ke rahmatullah pada saat mengemban amanah untuk kebutuhan KKI. Sekitar jam 19.30 malam, kecelakaan menimpa almarhumah ketika ia dalam perjalanan pulang seusai menyelesaikan amanahnya. Pengabdian dan perhatiannya begitu besar terhadap dakwah. Hari-hari semasa hidupnya dipenuhi dengan amal kebaikan dan perjuangan demi tegaknya syariah dan Khilafah. Bahkan sebelum kepergiannya, almarhumah berada dalam kebaikan amal dari pagi hingga malam. Sehabis isya menjelang kepergiannya, almarhumah mempersiapkan keperluan medis untuk perjalanan KKI, menyiapkan kebutuhan orangtua selama ditinggal KKI, juga sempat mengambil ar-Raya dan al-Liwa untuk KKI. Bahkan akhirnya ia meninggal dengan indah karena bendera ar-Raya menyelimuti tubuhnya tepat saat terjadi kecelakaan tersebut. Allahummaghfir lahâ warhamhâ wa‘fu ‘anhâ

Sebetulnya, banyak sekali kisah yang mengharukan sekaligus membanggakan dari pengorbanan para syabab/syabah demi menyukseskan acara KKI ini. Semua itu mereka lakukan tidak lain karena mereka sadar bahwa acara KKI ini merupakan momen yang, mau tidak mau, harus sukses terselenggara. Sebabnya, KKI ini merupakan media pengopinian gagasan Khilafah yang sangat penting, yang akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan perjuangan penegakkan Khilafah Islamiyah, khususnya di Indonesia, ke depan.

Alhamdulillah, dengan adanya pertolongan Allah, acara KKI sukses terselenggara. Semoga gagasan Khilafah, khususnya di Tanah Air, semakin populer di masyarakat, dan perjuangan penegakkan Khilafah—yang memang merupakan kewajiban dari Allah dan Rasul-Nya—semakin banyak didukung masyarakat. Insya Allah, kita yakin, sesuai dengan janji Allah dan Rasul-Nya, tidak lama lagi Khilafah akan segera tegak berdiri. Allâhumma, âmîn, yâ Mujîb as-Sâ’ilîn [Arief B. Iskandar]

Blog pada WordPress.com.