Jejak Kehidupan Insan

September 17, 2007

Mutiara dan Kerang Rebus

Filed under: Kisah — sbsan @ 6:06 am

kerang.jpg

Dua puluh tujuh tahun yang lalu, keluarga kami tinggal di tengah hutan. Kampung terdekat dengan gubuk kami berjarak kurang lebih 2 km. Gubuk itu terbuat dari bambu (gedhek). Agar aman dari serangan binatang buas gubuk kami dibuat panggung. Pohon singkong menge-lilingi gubuk yang hanya mempunyai satu tempat tidur itu. Di depan gubuk nan semilir ada sungai kecil dengan aliran air yang sangat jernih. Di sungai itu, setiap hari saya mandi dengan adik dan kakak. Untuk memenuhi kebutuhan lauk pauk, kami sering memancing ikan di rawa kecil dekat tempat tinggal kami.
Ketika saya sedang memancing ikan di rawa, Ayah saya datang dan bercerita tentang Mutiara dan Kerang Rebus. Ia bertutur, “Ketika kerang belia mencari makan dibukalah penutup badannya, ketika itu pasir masuk ke dalam tubuh kerang belia itu. Sang kerang menangis “Bunda sakit bunda…sakit…ada pasir masuk ke dalam tubuhku”. Sang Ibu menjawab, “sabarlah anakku, jangan kau rasakan sakit itu, bila perlu berikan kebaikan kepada sang pasir yang telah menyakitimu”. Kerang beliapun menangis, namun air matanya ia gunakan untuk membungkus pasir yang masuk ke dalam tubuhnya. Hal ini terus menerus ia lakukan. Rasa sakit itupun secara ber-angsur berkurang bahkan kemudian hi-lang. Ajaibnya, pasir yang membuat sakit tubuh kerang itu justru telah beru-bah menjadi sebutir mutiara. Ketika dijual, kerang yang telah berisi mutiara itu harganya mahal. Sementara kerang yang tak pernah merasakan sakitnya pasir dalam tubuhnya, ia menjadi Kerang Rebus yang dijual murah di pinggir-pinggir jalan.
Setelah menarik napas panjang, Ayah saya melanjutkan, “Kalau kamu tidak pernah mendapat cobaan, maka kamu akan menjadi Kerang Rebus atau orang murahan. Tapi kalau kamu mampu menghadapi cobaan, bahkan mampu memberikan manfaat kepada orang lain ketika kamu sedang mendapat cobaan, maka kamu akan menjadi Mutiara. Anakku…, Kerang Rebus dijual obral di pinggir jalan sementara Mutiara dijual mahal, diletakkan di tempat terhormat dan dikenakan oleh orang-orang yang terhormat. Hidup adalah pilihan wahai anakku…terserah kamu; kamu bisa memilih hendak menjadi Mutiara atau Kerang Rebus.”
Cerita itu sangat mempengaruhi hidup saya. Ketika saya SMP, saya harus mencari biaya sendiri untuk membayar SPP. Selepas subuh, saya harus pergi ke kebun karet untuk mengambil latex dari perkebunan karet yang telah membeku. Pekerjaan itu bisa saya tuntaskan sebelum jam tujuh pagi. Saya dibayar empat ribu perak selama sebulan. Karena pekerjaan itu, aroma tak sedap menempel di tangan saya. Walau dicuci dengan sabun, aroma itu tetap tak hilang. Sesampainya di sekolah, sering tangan itu diludahin teman karena bau yang tak sedap itu. Dalam suasana seperti itu, saya teringat cerita Mutiara dan Kerang Rebus dari ayah saya. Cerita itu telah membuat saya kuat menghadapi cobaan hidup.
Begitu pula ketika saya diterima kuliah di IPB. Saya dan ayah saya datang ke salah seorang yang kaya di kampung kami. “Alhamdulillah pak, Jamil diterima di IPB. Saya tidak punya uang untuk memberangkatkan dia. Tolong saya dipinjami uang tiga ratus ribu rupiah saja.” Begitu ayah saya membuka pembicaraan. Sambil menghisap rokok, tuan rumah itu menjawab, “wah hebat bisa diterima di IPB, tapi kalau nggak punya uang ya nggak usah panjang angan-angan. Sudah tahu miskin, nggak punya uang lha koq mau kuliah. Baru mau berangkat saja sudah pinjam. Bagaimana nanti biaya bulanannya? Apakah bertahun-tahun mau pinjam uang terus?” Baru kali ini saya mendengar penghinaan seperti itu. Tak terasa butiran air mengalir di pipi. Saya biarkan air mata itu mengalir sebab saya merasa itu adalah air mata kerang belia yang sedang membungkus pasir yang masuk ke dalam tubuhnya. Memang, saya telah memutuskan untuk menjadi Mutiara, bukan Kerang Rebus. Bagaimana dengan Anda?

Source : Jammil Az Zaini

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Tema: Banana Smoothie. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.